Banten sebagai penyangga DKI Jakarta

Serpong Garden Apartment – Banten merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki posisi letak yang sangat strategis. Jumlah penduduk di Provinsi Banten terus meningkat, mencapai 10.632.166 jiwa (SP 2010) sedangkan di tahun 2012 ini diperkirakan ± 12 juta jiwa. Ciri masalah Kependudukan yang sama juga dialami oleh Provinsi Banten diman persebaran penduduk tidak merata, lebih dari56 % dari jumlah penduduk Provinsi Banten menempati  wilayah Tangerang raya. Hal ini dikarenakan posisi geografis daerah Tangerang raya (KotaTangerangKabupatenTangerang, dan KotaTangerang Selatan) merupakan wilayah penyangga bagi Provinsi DKI Jakarta,sehingga wilayah Tangerang Raya berpeluang dan telah menjadi salah satu tujuan utamadari mobilitas penduduk baik dari dalam Provinsi Banten maupun dari Provinsibahkan pintu utama bagi masuknya migran/pekerja asing yang melakukan migrasi internasional ke Indonesia, karena terdapat Bandara Internasional SoekarnoHatta yang masuk kedalam wilayah Kota Tangerang.

Dalam Banten DalamAngka tahun 2012 (BPS,2012), Kabupaten Tangerang tercatat sebagai daerah yangpaling banyak penduduknya dengan angka 26,90% dari populasi penduduk yang adadi Banten, diikuti oleh Kota Tangerang sebesar 16,99 % dan Kota Tangerang Selatan sebesar 12,32%. Data lengkap dapat dilihat pada bagan dibawah.

Daerah Tangerang raya

dengan jumlah populasi penduduk lebih dari setengah penduduk yang ada di Provinsi Banten. Tetapi daerah tersebut hanya memiliki luas wilayah kurang dari 14 persen dari total luas wilayah Provinsi Banten. Hal ini berdampak pada tingkat kepadatan penduduk yang tinggi di wilayah Tangerang raya terutama di Kota Tangerang yang memiliki tingkat kepadatan tertinggi di Provinsi Banten mencapai 12.147 jiwa per km2. Hal ini berbeda jauh sekali dengan Kabupaten Lebak yang merupakan wilayah terendah dari tingkat kepadatan penduduk, yaitu dengan tingkat kepadatan hanya 359 jiwa per km2 .

Mobilitas pada daerah penyangga Ibukota Jakarta

Jumlah dan Kepadatan penduduk yang tinggi di daerah Tangerang Raya tidak terlepas dari letak geografis wilayah
tersebut yang berbatasan langsung dengan Ibukota DKI Jakarta. Kedekatan dengan Ibukota dan sebagai pintu gerbang DKI Jakarta maka akan menimbulkan interaksi yang menumbuhkan fenomena interdependensi yang kemudian berdampak pada
timbulnya pertumbuhan pada suatu wilayah. Kondisi ini otomatis akan memicu timbulnya mobilitas penduduk dari daerah lain dalam provinsi Banten ataupun dari provinsi lain, baik itu mobilitas vertikal maupun horizontal.

Mobilitas vertikal adalah semua gerakan penduduk dalam usaha perubahan status sosial. Contohnya, seorang buruh tani yang berganti pekerjaan menjadi karyawan pada sektor industri termasuk gejala perubahan status sosial. Dilihat dari data informasi lowongan kerja yang dirilis dalam Banten dalam Angka tahun 2012 (BPS) bahwa sektor industri pengolahan membuka lowongan pekerjaan terbanyak, dengan jumlah sebanyak 34.582 lowongan kerja, lalu diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran sebanyak 11.719 lowongan kerja yang terdaftar pada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Banten.

Dengan jumlah lowongan kerja yang tersedia tersebut akan menimbulkan peralihan pekerjaan atau status sosial. Lalu Mobilitas horizontal adalah semua gerakan penduduk yang melintas batas wilayah tertentu dalam periode waktu tertentu. Batas wilayah yang umumnya adalah batas adminitrasi, seperti provinsi, kabupaten, kecamatan, kelurahan. Mobilitas ini menjadi ciri dari daerah penyangga, dimana di wilayah tersebut penduduk akan bertambah pada malam hari sedangkanpada siang hari penduduk akan lebih lama berada diluar wilayah asalnya untuk bekerja atau berusaha. Sehingga daerah penyangga akan dijadikan tempat untuk tinggal dan berkeluarga. Kondisi ini  dapat dilihat pada Kota Tangerang Selatan dimana kota ini tumbuh menjadi daerah yang melayani DKI Jakarta dalam menyediakan pemukian bagi penduduk yang melakukan mobilitas nonpermanen atau disebut juga migrasi sirkuler yang berarti bahwa gerakan penduduk dari satu wilayah ke satu wilayah lain dengan tidak ada niat untuk menetap di daerah tujuan.

Mobilitas tersebut terjadi dikarenakan letak geografis Kota Tangerang Selatan yang berbatasan langsung dengan provinsi
DKI Jakarta pada sebelah utara dan timur memberikan peluang pembangunan ekonomi pada Kota Tangerang selatan dengan salah satunya adalah menyediakan permukiman, bahkan sebagian besar luas penggunaan lahan digunakan untuk perumahan dan permukiman. Terdapat tiga pengembang besar perumahan skala besar, yaitu Bumi
Serpong Damai (BSD), Bintaro dan Alam Sutera yang berinvestasi modal cukup besar di Kota Tangerang Selatan hingga terdapat 193 kawasan perumahan di Kota Tangerang Selatan pada tahun 2010.
Dengan ciri mobilitas diatas dan status sebagai daerah penyangga Ibukota DKI Jakarta, mengakibatkan tingginya laju pertumbuhan penduduk di wilayah Tangerang Raya dibandingkan daerah lain di Provinsi Banten. Sehingga berdampak pada jumlah penduduk yang besar dan tingkat kepadatan yang tinggi.

Pertama, perlu tersedia infrastruktur(jalan, halte, stasiun kereta) dan sarana transportasi (bis kota, kereta, angkot) yang
memadai lengkap, untuk memudahkan mobilitas sirkuler penduduk di daerah penyangga Ibukota. Hal ini dapat dilakukan oleh dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Perhubungan dengan melibatkan pihak swasta.

Kedua, dengan tingginya laju pertumbuhan penduduk, mengakibatkan terjadinya peningkatan kebutuhan akan lahan, sehingga perlunya penataan ulang tentang RTRW (Rencana Tata ulang Ruang Wilayah) atau melakukan kajian ulang terhadap RTRW yang ada, apakah masih sesuai dengan kondisi saat ini.  Ini bisa dilakukan oleh para pemangku kebijakan (eksekutif dan legislatif yang terkait) dengan melibatkan para akademisi.

Ketiga, melakukan sosialisasi tentang pembangunan yang berwawasan kependudukan dimana penduduk sebagai objek yang menikmati hasil pembangunan sekaligus sebagai pelaku/subjek pembangunan pada daerah penyangga Ibukota DKI Jakarta. Sehingga pembangunan yang terjadi merupakan pembangunan yang pro rakyat. Agar sosialisasi ini berjalan BKKBN perlu terus melakukan advokasi kepada para pemangku kebijakan yang berada di wilayah Tangerang Raya.

Keempat, harus ada Grand Design Kependudukan pada wilayah Tangerang Raya (Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan), untuk dapat mengantisipasi timbulnya masalahkependudukan pada masa yang  akan datang. disimpulkan bahwa wilayah Tangerang raya sebagai daerah penyangga Ibukota DKI Jakarta, tidak dapat dipungkiri telah menjadi tujuan bagi para penduduk dari wilayah lain, untuk bertempat tinggal dan mencari nafkah. Hal ini terlihat dari tingginya laju pertumbuhan penduduk akibat adanya mobilitas penduduk ke tiga daerah Tangerang, sehingga berdampak terhadap besarnya jumlah penduduk dan tingginya tingkat kepadatan penduduk di wilayah tersebut.

Bagikan